Syahrul, Inspirasi dan Harapan?


Menjadi relawan pengajar Kelas Inspirasi adalah pegalaman pertama bagiku, Apalagi mengajar  anak Sekolah Dasar (SD) adalah Hal baru yang tak pernah terpikirkan olehku. Kelas Inpirasi yang bertujuan membuka wawasan dan berbagi inspirasi dengan anak-anak SD. Tentunya ini tujuan yang membuatku ragu, tidak percaya diri dan bertanya,”Apakah saya layak dan mampu menjadi Inspirasi bagi mereka?”.

 

Dan Kelas Inspirasi inilah yang mempertemukan saya dengan Syahrul, siswa kelas VI SDN Jambe Kumbuh 03 Lumajang. Mungkin tidak ada yang berbeda dengan anak yang lain, Syahrul sangat aktif di kelas dan selalu berusaha menjawab pertanyaan yang saya ajukan.

Ketika saya masuk Kelas dengan memakai Rompi dan Helm proyek kemudian saya bertanya pada siswa.

 

“Anak-anak, kira-kira bapak bekerja dimana?” .

“Tukang Bangunan pak,….”. Dalam hati berkata, “Apa ???”

Sambil tertawa saya menjawab,”Ada yang lebih keren tidak dari Tukang Bangunan ?”.

“Tukang Listrik, Tukang PLN,….”. Saya hanya tersenyum mendengarnya.

Kemudian saya mengeluarkan gambar Menara Effel. “Anak-anak tahu ini gambar apa?”.

“Menara Eiffel…”. Menjawab dengan sedikit ramai,

“Anak-anak pengen tidak ? ada bangunan seperti ini di Negara kita ?”. “Pengeeeen……”

“Nah, bapak itu kerjanya menghitung dan memikirkan bagaimana bangunan ini di bangun,

Bapak sebagai Lead Engineer, Ini adalah karya bapak..” sambil menunjukan foto proyek yang terakhir saya kerjakan.

 

Kelas menjadi sedikit ramai ketika saya mengeluarkan sebuah mobil-mobilan miniatur alat berat seperti Excavator, Truck Molen, Bulldozer dan sebagainya. Kemudian saya bertanya,

 

“Anak-anak tahu ini mobil apa ?”. sambil menunjukan mobil BullDozer.

“Traktor……”. Salah seorang anak menjawab. “Kalau yang ini..?”. Sambil menunjukan gambar Excavator.

“Traktor Juga…..”. Saya pun tersenyum mendengar jawaban anak-anak.

“Oke anak-anak, hari ini kita akan belajar nama dan fungsi alat-alat ini…” .

Nanti bapak adakan test dan yang bisa jawab boleh ambil salah satu mainan bapak yang ada di meja…”. “Horreeeee……”

“Yang ini Bulldozer,…. Ada yang tahu kenapa namanya Bulldozer….”.

Semua siswa bingung dan terdiam, Ada yang tahu artinya Bull….?? “Banteng pak,….”.

Artinya alat ini fungsinya apa,…?. “Nyruduk…. Nyruduk….”. Saya kembali ketawa,…

”Betul sekali,… Alat ini memang gerakannya menyeruduk (mendorong) kayak banteng,..

Kalo tanah di seruduk (didorong) berarti biar tanahnya….?”. “Rataaa…..”.

 

Setelah saya jelaskan berbagai penggunan Alat, Siswa saya bagi menjadi 4 kelompok, masing-masing kelompok saya berikan 1 paket permainan puzzle dan 1 buh kertas kecil. Tiap kelompok saya minta untuk menggambar dan menyusun puzzle tersebut menjadi bangunan yang mereka inginkan. Setelah itu nanti mereka harus bisa presentasi dan menjelaskan bangunan apa dan alat apa saja yang digunakan untuk membangunnya.

Dalam waktu 10 menit bangunan harus selesei, setelah hitungan ke 3 mulai.

 

Satu…. Dua…. Tiga……

 

Semua siswa bergegas menyusun puzzle yang saya berikan, Suasana Kelas menjadi ramai dan riuh dengan diskusi anak-anak di setiap kelompok. Saya Cuma tersenyum sambil memonitor satu per satu dari tiap kelompok. Akhirnya 10 menit berlalu, anak-anak menyeleseikan semuanya. Satu per satu wakil dari masing-masin kelompok maju kedepan dan menjelaskannya dengan baik. Nah, saat nya game berhadiah mobil-mobilan.

 

“OK, anak-anak,… sekarang siapa yang berani maju ke depan boleh memilih salah satu mobil mainan kakak,”.

Kemudian salah seorang segera mengangkat tangannya dan ke depan.

Ketika saya ambil gambar dan minta untuk menjelaskan anak tersebut dengan polosnya berkata,

“Lho,…Menjawab pertanyaan to pak, ya saya gag mau dan gak bisa..” Kelas jadi rame dan tertawa.

 

Saya tidak menyerah, kemudian anak tersebut sedikit saya rayu agar mau berpikir dan menjelaskan gambar yang saya pegang. Sambil saya bantu untuk mengingat fungsi alat dalam gambar tersebut. Akhirnya anak tersebut berhasil mengingatnya cukup baik.

Kelas kembali rame ketika sesi penilaian susunan bangunan terbaik,

“Hayoo,… bangunan kelompok mana yang paling bagus….?”.

Semua siswa berteriak menyebutkan kelompoknya masing-masing.

 

“Satu…. Satu pak,.. Duaaa…. “

“Tigaa,… Duaa,… Empaatt…. “

“Tigaa.,.. Satuu,…Duaa pak,…”

Kelas sangat ramai dengan teriakan anak-anak, saya hanya bisa tertawa. Kemudian saya punya ide.

 

“Baiklah,… Kalo semuanya menyebutkan kelompok masing-masing, Biar mas Eko Fotografer yang memilih…”. Saya pun menarik mas Eko untuk memilih bangunan siapa yang paling bagus. Dan mas Eko memilih kelompok 03 sebagai bangunan terbaik. Dan Kelompok 03 berteriak, “Horeee,… Dapat mobil lagi…..”.

 

Bel pulang pun berbunyi, semua siswa sudah merapikan tas nya dan berdo’a sebelum pulang. Saat itu saya berdiri di depan kelas dan semua siswa bersalaman secara bergantian untuk pamit pulang. Dan tiba-tiba, anak yang paling terakhir bersalaman memeluk saya sambil menangis,

 

“Saya mau belajar dengan bapak “

“Bapak mirip dengan bapak saya”

“Saya ingin belajar dengan bapak”.

 

Saya hanya diam sejenak, dan membalas pelukan anak itu, sambil membelai rambutnya.

Namun tak sepatah kata pun keluar dari mulutku.

Ada sebuah kegundahan didalam hati saya, Saya tak pernah berpikir dan membayangkan akan hal ini.

 

Dan saat itu saya hanya mengatakan,

“Syahrul,… Harus rajin belajar ya,… “. “Jadi anak yang rajin dan pintar…”.

Syahrul pun masih tetap menangis, dan Berkata,. “Bapak jadi guru disini ya…”.

Saya melihat sebuah Harapan yang besar di mata Syahrul. Namun otakku berpikir,

saya tidak mungkin mengiyakan keinginan Syahrul, Saya hanya seorang profesional,

Syahrul memiliki guru-guru yang hebat di SDN Jambekumbuh 03, Apalagi Bapak Enjang yang luar biasa.

 

Saya pun hanya terdiam sambil membelai rambut Syahrul, kemudian mengatakan,

“Syahrul,… Waktunya sholat dhuhur,.. Ayoo.. Syahrul sholat dulu,…”.

Akhirnya Syahrul membersihkan air matanya menggunakan tangannya dan Rompi yang saya pakai.

Kemudian dia melepaskan pelukannya dan bergegas menuju masjid di sebelah sekolahnya.

Dan tak kusangka beberapa anak perempuan diluar kelas juga ada yang menangis meski tidak seperti Syahrul.

 

Saya semakin tidak mengerti apa yang saya rasakan saat itu, saya hanya lebih banyak diam dan mengobrol dengan rekan-rekan Kelas Inspirasi secukupnya. Karena saya terus melikirkan apa yang baru saja terjadi dengan saya.

Akhirnya kami balik dari sekolah menuju kota lumajang, tak disangka Syahrul masih berada di sekolah dan melihat kami pergi.

Ketika saya melihat Syahrul saya hanya bisa melambaikan tangan. “Dadaaaa Syahrul,…”.

 

Sesampainya di Kota Lumajang, saya istirahat sejenak sebelum acara refleksi yang dilaksanakan di depan Stadion Lumajang.

Ketika saya berjalan menuju stadion, saya mendapat telepon dari seorang anak kecil, dan ternyata Syahrul.

Saya langsung bingung, dan harus ngomong apa ke Syahrul,

 

“Kakak,… Syahrul kangen sama kakak,…”.

Saya hanya menjawab,” Iya dek,… Syahrul lagi ngapain?. Saya berusaha sedikit mencairkan suasana.

“Syahrul baru bangun tidur, terus telepon kakak,… Nama kakak sama kaya adek Syahrul,..”.

“Tapi nama adek Syahrul Sahrizal kalo Kakak Safrizal,… Adek Syahrul baru umur 2 tahun”.

Saya masih bingung dan terlontar kalimat konyol. “Adek Syahrul sudah bisa jalan…?”(Umur 2 th pasti sudah bisa jalan…Lol).

“Kakak kapan kesini lagi, Syahrul pengen belajar sama kakak”.

“Iya dek, nanti kalau ada waktu ya…”.

“Ini pakai HP siapa?”. ”Ibu.. kak”.

“Rumah kakak mana?”. “Kediri dek,…”.

“Bukan Lumajang,…?. Kakak kok ke Lumajang….?”.

“Iya dek, kakak datang ke lumajang untuk ikut Kelas Inspirasi,… Kakak kerja di banyuwangi”.

“Sudah mandi belom sudah sore lho,…”.

“Belom kak,… Ya sudah aku mandi dulu ya kak,… Assalamu’alaikum”. Waalaikum salam.”.

 

Entahlah, dari pembicaraan via telepon dengan Syahrul saya semakin berpikir lebih keras untuk mengerti arti dari semua ini.

Betapa halusnya perasaan dari seorang anak. Semalaman saya masih memikirkannya dan sedikit khawatir dengan Syahrul.

 

Keesokannya saya kembali bekerja, Ada beberapa sms masuk dari anak-anak SDN Jambekumbuh 03, dari Supri, Galuh, Elok dan Eka.

Semuanya menanyakan kabar dan kapan saya akan mengunjungi sekolah mereka kembali.

Saya hanya berusaha membalasnya dan menenangkannya. Namun ada 1 pesan yang mengganjal dipikiranku.

Pesan dari Eka Rury anak kelas VI. Dalam pesannya dia menulis,

 

“. Y tdi udah belajar ma temen”…

skarang blajar ma sms an deh..

Ank kls 6 pda g’ smangat kak…

Apa lgi Syahrul kak klau lgi plajaran nglamun truz kak”.

 

Inilah sebuah pesan yang semakin membuatku gundah, Pikiranku melayang memikirkan Syahrul.

Bagaimana keadaannya sekarang, sedang apa?. Apakah dia akan bersedih?. Bayang-bayang Syahrul terus ada di pikiranku.

Saya pun hanya bisa bercerita pada Pak Enjang selaku Guru di SD tersebut dan memohon bantuannya agar mengembalikan syahrul seperti sebelumnya, yang penuh dengan kecerian dan tawa.

Dan saya juga bercerita pada relawan Yani Nur Hidayati, yang memotivasi saya untuk mengikuti Kelas Inspirasi, apa yang harus saya lakukan sekarang. Dan dia menyarankan saya untuk sms ke Syahrul walau hanya ucapan selamat tidur.

Malam itu pun aku sms Syahrul, dan esoknya dia membalas smsku.

 

Kelas Inspirasi yang bertujuan membuka wawasan dan memotivasi anak-anak SD membuatku berpikir keras tentang anak-anak.

Tujuan yang mulia ini benar-benar membuatku berpikir hal yang  pernah saya pikirkan sebelumnya yaitu sebuah pertanyaan,

”Apakah saya layak dan mampu menjadi Inspirasi bagi mereka?”.

 

Menjadi Inspirator bukanlah sesuatu untuk pamer atau sekedar bergaya namun terkandung sebuah tanggung jawab yang begitu besar.

Ketika kita menjadi inspirasi bagi orang lain secara tidak langsung kita bertanggung jawab untuk selalu berbuat baik dan menjadi contoh yang baik bagi lingkungan kita sehingga menurut saya, makna dari inspirator sebenarnya bukanlah seseorang yang mampu menginspirasi orang lain melainkan ketika 2 orang atau lebih bisa saling menginspirasi untuk terus berperilaku yang baik dan menjadi contoh bagi keduanya.

 

Kemudian saya berpikir, jika kehadiran saya hanya menghilangkan senyum dan tawa Syahrul ?.

Bahkan membuatnya sering melamun di kelas, apakah ini yang disebut Inspirasi?.

Ini jelas jauh menyimpang dari tujuan Kelas Inspirasi. Bukankah lebih baik kita tidak pernah dipertemukan.

 

Saya yakin Tuhan punya rencana yang baik atas semua ini, Saya dan Syahrul sengaja dipertemukan dalam sebuah momen Kelas Inspirasi.

Tuhan tidak pernah salah, Saya yakin itu.

Saya ingat sebuah kalimat, Jika Tuhan itu Maha Benar kenapa di dunia masih ada Salah,

Masih ada Baik dan Buruk, Baik dan Jahat. Apakah Tuhan menciptakan sesuatu yang buruk di dunia?

”Apakah dingin itu ada?” – kemungkinan besar mereka akan menjawab ya. Namun sebenarnya ini salah.

Dingin itu tidak ada. Yang dinamakan dingin adalah tidak adanya panas. Demikian, tidak ada kegelapan.

Kegelapan adalah saat tidak adanya terang.

Demikian pula kejahatan adalah tidak adanya kebaikan, atau yang lebih tepat, kejahatan adalah tidak adanya Tuhan.

Tuhan tidak menciptakan kejahatan, namun Dia mengijinkan hilangnya kebaikan karena manusia tidak mengakui adanya Tuhan.

 

Hingga tulisan ini saya tulis, saya masih saja memikirkan keadaan Syahrul.

Apakah dia masih melamun di kelas?.

Apakah dia sudah bisa tersenyum dan tertawa?.

Saat ini saya hanya bisa berdo’a pada Syahrul agar Syahrul tetap sehat, slalu ceria dan dapat meraih cita-citanya sebagai professor.

 

Sepenggal surat untuk Syahrul,

 

Syahrul tersayang,…

Kakak hadir begitu tiba-tiba, Hanya ingin sedikit memberi warna dan kenangan untukmu,

Tak pernah terpikirkan sedikit pun untuk menoreh luka di hati mu,

Senyum dan tawamu yang selalu ingin kakak lihat, Meski kakak tak selalu disampingmu,

Percayalah kakak selalu mengingat dan mendoakanmu,

Kakak akan slalu merindukanmu Syahrul,...