Negeri Para Pejuang


Setiap melihat foto-foto yang menggambarkan tulisan anak-anak tentang cita-citanya, saya selalu terpancing untuk membayangkan: apa yang di benak mereka ketika menuliskannya? Apakah mereka menuliskannya dengan gembira atau justru dengan kecemasan. Gembira membayangkan kebahagiaan ketika mencapai cita-cita itu; atau kecemasan tentang apakah mereka akan sanggup menggapainya. Atau bila tidak, apalagi yang mereka pikirkan?

Dan foto-foto seperti itu bertebaran saling silang hari-hari ini di berbagai media sosial. Kelas Inspirasi Bandung ke-2 baru saja dilaksanakan. KI Jakarta ke-3, KI Sulsel serta beberapa kota lain akan segera diadakan April mendatang. Dan rekaman foto-foto itu –terima kasih buat para fotografer yang telah membuatnya abadi—dipublikasikan dalam berbagai format yang unik dan menarik sebagai bahan kampanye kegiatan Kelas Inspirasi ini. Dan rekaman itu jadi jauh lebih banyak karena KI juga telah diselenggarakan di berbagai tempat di Indonesia sejak pertama kali diadakan di Februari 2012 di Jakarta.

Lalu terperosoklah saya –seperti cerita Alice in Wonderland—dalam sebuah petualangan ke alam pikir anak-anak itu, setidaknya dalam versi fantasi saya. Fantasi tentang apa yang mereka pikirkan bahkan menjadi lebih liar ketika menyaksikan –seperti pengalaman jadi relawan KI dulu atau sekedar melihat di foto—anak-anak itu sedang duduk terpekur berdoa. Tiba-tiba saya seperti mendengar ribuan suara lafal doa anak-anak itu dengan segala impian bahagia dan sekaligus kecemasan mereka.

Sebagian barangkali berdoa dengan ceria: “Ya Tuhan, jadikan saya Flash Gordon”. Tentu ini tidak akurat karena sebagai informasi Flash Gordon adalah pahlawan generasi 80an. Atau “semoga saya bisa seperti Bambang Pamungkas”. Sebagian lain melengkapinya dengan kecemasan seperti “ya Tuhan, semoga saya bisa mengalahkan monster matematika” atau “semoga besok tidak hujan deras lagi”. Sebagian lain berdoa hal-hal sederhana dalam bisikan ringan, “Tuhan, berikan rizki cukup untuk ayahku agar ia bisa cepat pulang..”

***

Maka saat mereka menulis cita-cita di atas kertas polos dalam berbagai warna tinta, seolah mereka sedang menaruh usulan pada Tuhan di atas sana. Mereka seperti memilih dengan sadar dan mengirimkan proposal itu pada Yang Maha Kuasa. Dan seolah mereka siap dengan segala resiko ketika menaruh pilihan dalam goresan kertas itu.

Dan rumitnya setiap titik dalam goresan itu adalah momen-momen perjalanan panjang mereka ke depan. Goresan dalam tulisan itu seperti skala dalam perbandingan peta: satu centimeter di peta menggambarkan sekian juta centimeter dalam hidup sebenarnya. Titik dan garis itu seolah jatuh-bangun, gagal, maju, menang dan barangkali juga menggambarkan rangkaian ujian hidup sebenarnya nantinya.

Barangkali benar ilustrasi Rendra –dalam Sajak Sebatang Lisong-- tentang tantangan mereka ini, yaitu bahwa mereka melangkah di jalan panjang, tanpa pepohonan, tanpa dangau persinggahan. Rumitnya segala hal bisa terjadi di jalan panjang itu. Setiap saat selalu ada pedang yang bisa membunuh cita-cita mereka, sengaja atau tidak.

Seorang ayah yang kelelahan setelah pulang bekerja barangkali hanya ingin mendidik anaknya untuk ‘memetakan sumber daya dengan tepat’. Saat anaknya bercerita ingin jadi dokter suatu hari nanti, ia hanya berujar ringan ‘duitnya dari mana?’. Dan pedang itu menebas tajam, pelajaran memetakan sumberdaya dipahami sang anak sebagai pelajaran tentang kelas sosial bahwa ‘si miskin tidak boleh bermimpi tinggi’.

Dalam dunia kompleks ini, seorang anak tidak hanya bertemu linear dengan guru dan orang tua semata. Maka bayangkan berapa banyaknya pedang yang bisa mengganggu jalan panjang mereka itu. Setiap fenomena dalam hidup sehari-hari mereka bisa jadi pedang yang menebas runtutan tulisan cita-cita yang telah mereka toreh sebelumnya. Sinetron, obrolan antar teman, bacaan di majalah, sapaan saat pertemuan keluarga dan semua hal bisa mengganggu rencana besar mereka. Belum hal-hal konkret yang terjadi dalam dunia nyata: uang kuliah mahal, beasiswa salah sasaran, prosedur tidak transparan dan sebagainya.

Lalu ketika seorang relawan hadir di kelas dan bercerita tentang profesinya, apa pengaruhnya bagi hal kompleks itu? Apa artinya satu hari dalam kelas mereka?

***

Jalan memang sungguh panjang. Seribu hari juga tak akan cukup. Bahkan ketika setiap hari di setiap kota di Indonesia kita mengadakan sesi Kelas Inspirasi, tidak pula bisa menjamin bahwa mereka akan memenangkan jalan panjang mereka. Orang bijak merumuskan kompleksitas variabel yang bekerja di jalan panjang itu dengan ‘kehendak Tuhan’ untuk menyederhanakan kerumitan teknokrasi serta ketersediaan dangau, pepohonan atau pedang.

Maka ini pasti bukan melulu cerita tentang anak-anak dan sebuah profesi. Toh jenis-jenis profesi adalah fungsi dinamis dari kondisi jaman. Dan selalu sah saja untuk mengganti atau mengubah impian profesi nantinya.

Tampaknya ini juga bukan lokakarya teknokrasi pendidikan. Atau seminar motivasi cita-cita. Dan rumusan kertas kebijakan atau teriakan ‘suksessss’ akan jadi mantra ajaib bagi mereka.

Atau ini sesungguhnya ini hanya dongeng sederhana soal proses mencapai, bukan soal status capaian itu sendiri. Ketika mereka menulis dan membayangkan sebuah profesi, sesungguhnya mereka sedang belajar merumuskan cita-cita dan belajar untuk meyakini bahwa setiap cita-cita harus dikejar. Ia tidak jatuh dari langit, tidak lahir karena keturunan dan tidak keluar karena cocok nomer undiannya.

Dan lihatlah fakta sederhana yang lebih luas: bahwa mereka belajar dari orang-orang yang tepat. Para relawan pengajar berdiri di hadapan kelas dan menjadi contoh sederhana bahwa –terlepas dari apapun profesinya—ia bisa hadir di depan kelas hari itu karena perjuangan panjangnya. Mereka yang pernah mengambil alih pedang dan menggunakanya bukan untuk menebas cita-cita mereka tetapi membersihkan rumput liar dan gulma yang mengganggu.

Pun demikian halnya para relawan panitia dan fotografer. Selain soal mereka juga punya mantra perjuangan sendiri tetapi bahkan pada saat itu dan hari-hari sebelumnya, mereka ini terlalu berkeras hati untuk mewujudkan sesi Kelas Inspirasi ini di sekolah-sekolah itu. Tanpa bayar, tanpa perintah, berkorban waktu-tenaga-uang dan tentu saja penuh lecet-lecet dalam koordinasi kerja sosial ini.

Maka lihatlah gambar besarnya: bahwa ini adalah sebuah orkestrasi sederhana tentang orang-orang yang berkeras hati mewujudkan cita-cita. Ini adalah operet singkat satu hari ketika para pejuang berkumpul dan bekerja dalam peran berbeda-beda. Pengajar, panitia, fasilitator, fotografer, anak-anak, guru-guru, kepala sekolah semuanya berkeras hati membangun kemajuan bersama. Tidak ada perintah, tidak ada bayaran. Berkeras hati adalah pilihan sadar kita semua.

Dan apa jadinya negeri ini bila semua orang berkeras hati mencapai cita-citanya. Kita tidak melulu sedang memimpikan bangsa kita di masa depan diisi oleh jutaan anak-anak sekarang yang tercapai cita-citanya suatu hari nanti, bangsa yang diisi oleh jutaan orang terdidik dalam berbagai ragam profesi yang bisa sama atau beda dengan yang mereka tulis hari-hari ini. Ini pasti bukan melulu soal anak-anak menjadi dokter, insinyur atau tentara. Atau profesi unik yang menyebutkannya pun sulit.

Sesungguhnya saat itu negeri ini sedang dipenuhi oleh jutaan pejuang. Dan sekali ini kita sedang membuktikan bangsa kita –dengan bantuan Anda yang menjadi relawan panitia, fasilitator, fotografer dan pengajar di KI—adalah negeri yang dipenuhi oleh para pejuang. Ya tentu saja jalan masih panjang tetapi sungguh kita menikmati seluruh kerumitan untuk kita taklukkan: satu hari Kelas Inspirasi atau ribuan hari ke depan.

Bayangkan bila kita adalah seorang anak yang menerima pelajaran soal ‘memetakan sumberdaya’ di atas. Kita akan menerimanya dengan riang: bahwa ayah mengingatkan uang SPP harus diperjuangkan seperti yang ia contohkan tiap hari ketika mencari nafkah. Ketika kita melihat sekeliling, berjuang keras adalah nafas hidup yang biasa ditemui di mana-mana. Dari orang tua, dari teman, dari guru, dari tetangga dan tentu saja dari para relawan yang pernah hadir di hadapan mereka.

Negeri para pejuang adalah kolam yang airnya berisikan oksigen yang mengandung pesan ‘pantang menyerah’. Negeri yang udaranya hanya bermaterikan partikel ‘coba lagi’. Ruang yang hujan, badai dan gerimisnya menjatuhkan air yang rasanya ‘maju terus’.

Maka ketika anak-anak negeri ini sedang menuliskan cita-citanya, sesungguhnya mereka sedang memilih untuk terus berjuang di jalan panjang mereka. Dan adalah kehormatan bagi kita untuk terus menemani mereka berjuang.

Siang ini dari Galuh, saya mencatat kesaksian bahwa para relawan KI sedang mengkonfirmasi bahwa negeri kita adalah negeri para pejuang. Salam untuk seluruh relawan, penggerak dan pegiat KI di belahan manapun negeri pejuang ini.

Hikmat Hardono

**ps: oleh-oleh dari Kamp Pegiat Jatim, Kamp Komsus KI, cerita KI Bandung-2, CFD dan kampanye KI Jakarta-3, persiapan KI Sulsel dan foto-foto yang bertebaran di mana-mana hari-hari ini.

"Langkah menjadi panutan, Ujar menjadi pengetahuan, Pengalaman menjadi Inspirasi"